Selasa, 27 Agustus 2013

BELAJAR DARI HIDUP



BERBURU GENAPKAN SEPARUH DIEN, BERLOMBA TINGGALKAN KETAQWAAN



Ada yang bisa memaknai judul di atas??mungkin banyak yang bingung tetapi ungkapan di atas merupakan ungkapan paradoksal yang seharusnya tidak boleh terjadi dikalangan umat muslim.  Judul di atas terinspirasi dari fenomena yang lagi booming dikalangan aktivis dakwah yang notabene mereka adalah garda terdepan dimana iman, islam bahkan ihsan seharusnya berjalan secara serasi, selaras dan seimbang. 3 kesatuan yang tidak boleh terkotak-kotakkan karena ketiganya bersifat korelatif.
Sering teman kampus mengeluhkan suatu kajian yang lagi tren masa kini entah di kajian kampus or kajian diluar kampus. Yaa..kajian yang banyak diminati dan dinikmati oleh kalangan muda saat ini dengan grand theme yang hampir serupa diseluruh kampus indonesia raya..”kajian pra nikah” ..lho terus apanya yang salah??? Kenapa teman sampai mengeluhkan acara tersebut yang di gelar secara fulgar ke adik-adik yang masih “megang”/dibutuhkan di kampus? padahal menurut saya secara urgensi itu sangat penting bagi kalangan muda (red: aktivis dakwah) saat ini. hehm mungkin menjadi koreksi bagi kita semua..di sini tidak ada yang salah dan patut dipersalahkan..karena memberi dan menuntut ilmu bagi tiap muslim menjadi hal yang justru disunnahkan oleh Rasulullah..
Saya tidak akan membahas masalah kajian pranikah yang digelar secara fulgar kepada aktivis dakwah yang masih sangat aktif di kampus..karena itu bukan suatu masalah..yang ingin saya utarakan di sini adalah korelasi antara penggenapan separuh dienul islam melalui pernikahan  dengan aplikasi dari pemahaman konsep iman, islam dan ihsan yang ketiganya menjadi pondasi utama tegaknya dien pada setiap hambaALLAH.
Belajar hikmah dari sepenggal pengalaman hidup..
Pernah suatu ketika saya agak uring-uringan di kos, kenapa???notabene kos akhwat muslimah masyaALLAH masih ada saja yang gemar mendholimi penghuni kos lain dengan kebiasaannya..sebenarnya kebiasaan yang lumrah bahkan tak jarang kita temui di kalangan mahasiswa kampus  yaitu aktivis yang melalaikan kerapian dan kebersihan diri dan lingkungan.. ya saya lanjutkan kisah yang pernah saya alami..suatu ketika saya membuang bungkusan kecil dekat dapur kos, saya liat dalamnya berisi kotak makanan yang di dalamnya saya tidak tahu entah apakah isinya.. awalnya sehari,2 hari,3 hari sampai berlangsung sepekan lebih plastik berisi kotak makan entah siapa pemiliknya itu tidak berubah posisi, hampir tiap hari saya tanya ke penghuni kos siapa yang memiliki plastik hitam berisi kotak makanan itu. Saya tunggu2 ternyata tidak ada respon dari penghuni kos. Dalam pikiran saya sudah sepekan lebih tidak ada yang mengaku plastik hitam itu kepunyaan siapa, berarti sudah menjadi wewenang saya untuk memperlakukan bungkusan itu sebagaimana mestinya. Akhirnya saya buka plastik hitam itu..masyaALLOH ternyata kotak makanan yang berubah menjadi  jamur  yang amat menjijikkan bagi setiap insan yang melihatnya..tidak perlu berfikir panjang langsung saya buang karena saya tidak mau menanggung resiko untuk pingsan atau muntah-muntah melihat apa yang ada dalam kotak makanan itu..sehari kemudian terdengarlah suara salah seorang penghuni kos yang mencari plastik bungkusan hitam berisi kotak makanan itu..bingung mencari kesana kemari, akhirnya saya sambangi si adik kos itu. ternyata benar dia mencari kotak yang kemarin saya buang. saat ini saya jadi tersangka utama dalam insiden pembuangan kotak makanan itu. tapi akhirnya saya punya alibi karena sejak seminggu yang lalu beliau ada di kamarnya dan sudah saya tanyakan ternyata hanya mengiyakan tanpa ada respon yang jelas terhadap apa yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabnya..apa yang salah dengan saya?? Haruskah ijin kepada pemiliknya sedang saya yakin pemiliknya akan pingsan ketika melihat barang kepunyaannya sudah berubah wujud dan tidak layak digunakan lagi, dan parahnya lagi ternyata kotak makanan itu dia pinjem dari salah seorang temannya”. Tidak hanya itu saja bahkan cucian, piring&gelas bekas makan, minum, pakaian yang direndam, pakaian kering, kaos kaki kotor arrgghhh etc..sering membuat penghuni kos yang lain merasa terdholimi. Hingga suatu ketika komplain selalu datang dari partner kamarnya yang selalu tidak betah dengan ketidak rapian dan ketidak bersihannya..Tetapi ada yang menarik dari sisi pribadi beliau. Ketika beliau keluar dari singgasana kos, pakaiannya selalu rapi dan cantik sekali..bajunya selalu berwarna-warni dan match sekali. Sesampai dikampus ngisi kajian adik2 dengan PDnya menyampaikan kepada adik2 binaannya sebuah hadits “ ANNADHOFATU MINAL IIMAN” wow sungguh luar biasa bukan?
PERNAHKAH TERJADI ATAU ANDA TEMUI DILINGKUNGAN SEKITAR ANDA???bila pernah anda temui segera beristighfarlah mohon ampun buat diri anda dan buat “si tersangaka” J  jika tak pernah ditemui maka bersyukurlah..
Sepenggal cerita di atas mengingatkan diri sendiri betapa mengaplikasikan IMAN dari tataran konseptual ke tataran aplikatif ternyata bukanlah pekerjaan yang mudah. Kita ambil contoh di atas adalah sebagian kecil dari iman masalah kebersihan dan kerapian..ya hal yang furu’ dari iman..pertanyaannya jika hal terkecil dari iman saja tidak diperhatikan bagaimana dengan agama atau diennya atau keislamanya??Padahal iman menjadi pondasi utama tegaknya  islam dan ihsan yang akhirnya membentuk kekokohan seseorang dalam ber dienul islam..menjadi muslim/mah yang seutuhnya.
Bercermin pada fenomena sekarang ini banyak kajian-kajian kampus bertemakan”FIQIH SUNNAH bab THOHAROH selalu kalah rating pengunjungnya jika dibandingkan animo pengunjung kajian pra nikah (FIQIH MUNAKAHAT)” sebenarnya sama-sama fiqihnya sama-sama pentingnya tapi ada prioritasnya..pernahkah kita berfikir mengapa bab thoharoh menjadi bagian yang diutamakan dalam BULUGHUL MARAM dibandingkan dengan FIQIH MUNAKAHAT itu sendiri? Jawabnya karena FIQIH THAHAROH itu mendasari fiqih-fiqih selanjutnya “ Misal FIQIH MUNAKAHAT nantinya akan menggunakan fiqih thoharoh bab mandi besar,  bagimana fiqih tentang SHOLAT juga akan menggunakan bab thoharoh tentang bagaimana tentang wudhu, hadats dan najis kemudian tentang pengurusan jenazah akan menggunakan fiqih thaharoh juga”. Kenapa menjadi hal utama karena bab thoharoh semua menyangkut dan berkaitan langsung dengan tubuh kita, diri kita sendiri. Diterimanya sholat kita, diterimannya ibadah kita, sehat atau sakitnya kita semua tergantung bagaimana kita mengaplikasikan fiqih thoharoh pada diri kita. Ya tidak hanya  kajian fiqih saja yang sich,Masih banyak kajian-kajian lain yang kalah populer dari kajian pra nikah. Saya tidak akan mempermasalahkan itu tapi mari kita kembali hidupkan majelis tholabul ilmi yang membahas semua aspek dari mulai kajian aqidah, fiqih, shiroh,tafsir, kontemporer dll secara “adil dan utuh” agar kita menjadi pribadi muslim/muslimah yang utuh pula.
Semangat Menggenapkan Dien, Tetapi Jangan Melupakan Bagian Dari Imanmu
Saudaraku bukan suatu masalah jikalau kita menggebu-gebu dalam hal pernikahan. Seusia kita secara psikologis akan sangat wajar perasaan itu muncul sebagai naluri kodrati yang merupakan rahmat dari Ilahi. Patut kita syukuri. Tetapi ingatlah wahai saudaraku, ketika kita niatkan menikah karena ALLAH Lillaahi Ta’ala berarti kita harus mau menanggung semua konsekuensi yang ada yaitu penyempurnaan iman, islam dan ihsan untuk mencapai ketaqwaan. Anjuran tentang menikah berdasarkan hadits adalah bahwa menikah merupakan penggenapan dari separoh dien kita. Tetapi ada hadits yang menerangkan kelanjutan dari hadits di atas yaitu genapkan separuh lagi dengan ketaqwaan kita seutuhnya pada ALLAH SWT. Jadi jangan memutus kandungan hadits di tengah jalan, dengan menafikkan kandungan hadits yang lain.  Kita harus cerdas mencari hadits lain yang juga saling berkaitan. Sekali lagi masalah penggenapan dien dan penggenapan ketaqwaan bukan hanya dalam tataran konseptual tetapi harus diwujudkan dengan akhlaq dan sikap / perbuatan kita. Kesemuanya harus seimbang/wasathon. Jangan sampai kita lihai dan cakap dalam ilmu pernikahan tetapi kita lupa tentang aplikasi ketaqwaan. Jangan sampai kita ingat jadwal daurah munakahat dan kajian pranikah tetapi kita lupa jatah jadwal piket kos kita. Jangan sampai kita semangat mendatangi walimahan tetapi kita diam saja ketika buku, kaos kaki kotor dan pakaian kita berserakan dimana-mana. Itulah iman, menuntut kita untuk memperhatikan hal-hal yang kecil tetapi menghasilkan efek yang amat besar. Saya yakin toh tidak ada seorang ikhwan-pun yang mau mendapatkan istri yang tidak memperhatikan kerapian dan kebersihan, pun sebaliknya tidak ada seorang akhwat-pun yang ingin mendapatkan suami yang jorok dan tidak memperhatikan kerapian. Ya.. dari suatu hal yang kecil mengenai kerapian & kebersihan yang merupakan bagian kecil dari iman (sebenarnya tidak hanya masalah fisik saja tetapi secara ruhani juga). Harapannya kita, khususnya saya pribadi bisa mengintrospeksi diri dan melakukan perubahan sedini mungkin, apakah saya benar2 siap untuk menggenapkan DIEN sekaligus menggenapkan KETAQWAAN saya sebagai hamba ALLAH? Ataukah saya hanya siap mendapatkan pasangan hidup yang mampu menggenapkan SEPARUH DIEN saya tetapi saya lupa bagaimana kewajiban saya untuk BERTAQWA SEPENUHNYA pada ALLAH. Dengan cara apa untuk mencapai semua itu? Menyeimbangkan antara iman, islam dan ihsan tidak hanya dalam tataran konseptual tetapi diaplikasikan dengan akhlaq dan sikap/perbuatan kita, dan itu butuh proses serta pembiasaan. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan dan mumpung belum terlambat dengan kebiasaan/akhlaq buruk kita (sebelum semuannya kecewa termasuk pasangan kita kelak), maka mari kita biasakan untuk senantiasa hidup rapi dan bersih jiwa serta raga kita untuk menggenapkan bagian iman kita sehingga kita menjadi muslim seutuhnya.